Ranitidine
Ranitidin adalah obat yang digunakan untuk mengobati gejala atau penyakit yang berkaitan dengan produksi asam lambung berlebih. Beberapa kondisi yang dapat ditangani dengan ranitidin adalah tukak lambung, penyakit maag, penyakit asam lambung (GERD), dan sindrom Zollinger-Ellison.
Produksi asam lambung yang berlebihan dapat memicu iritasi serta peradangan pada dinding lambung dan saluran pencernaan. Hal ini dapat menyebabkan berbagai gejala, seperti rasa panas pada ulu hati dan tenggorokan, mual, serta kembung. Ranitidin bekerja dengan cara menghambat produksi asam lambung yang berlebih, sehingga gejala tersebut dapat mereda.
| Golongan | Antagonis H2 |
| Kategori | Obat resep |
| Manfaat | Menurunkan produksi asam lambung berlebih |
| Digunakan oleh | Dewasa dan anak-anak |
| Ranitidin untuk ibu hamil dan menyusui | Kategori B: Studi pada binatang percobaan tidak memperlihatkan adanya risiko terhadap janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada wanita hamil.Ranitidin dapat terserap ke dalam ASI. Bila Anda sedang menyusui, jangan menggunakan obat ini tanpa berkonsultasi dulu dengan dokter. |
| Bentuk obat | Tablet, kaplet, sirop, dan cairan suntik |
Dosis dan Aturan Pakai Ranitidin
Dosis ranitidin ditentukan berdasarkan kondisi yang akan diatasi, tingkat keparahan penyakit, dan usia pasien. Berikut adalah dosis ranitidin oral:
- Kondisi: Dispepsia
Dewasa: 150 mg 2 kali sehari, selama 6 minggu. Untuk pengobatan jangka pendek, dosisnya adalah 75 mg yang dikonsumsi hingga 4 kali sehari, maksimal selama 2 minggu.
- Kondisi: Infeksi Helicobacter pylopi
Dewasa: 300 mg 1 kali sehari dikonsumsi sebelum tidur atau 150 mg 2 kali sehari, dikombinasikan dengan antibiotik amoxicillin dan metronidazole selama 2 minggu. Setelah itu, pengobatan dilanjutkan lagi selama 2 minggu tanpa antibiotik.
- Kondisi: Tukak lambung dan ulkus duodenum ringan
Dewasa: 300 mg 1 kali sehari dikonsumsi sebelum tidur atau 150 mg 2 kali sehari, setidaknya selama 4 minggu. Dosis pemeliharaan 150 mg sekali sehari sebelum tidur.
Anak-anak usia 3–11 tahun: 2–4 mg/kgBB, 2 kali sehari. Dosis maksimal 300 mg per hari. Pengobatan dilakukan selama 4–8 minggu.
- Kondisi: Produksi asam lambung berlebih
Dewasa: 150 mg 2–3 kali sehari, maksimal 6.000 mg per hari.
- Kondisi: Penyakit asam lambung atau GERD
Dewasa: 150 mg 2 kali sehari atau 300 mg sekali sehari sebelum tidur, selama 8 minggu atau dapat diperpanjang hingga 12 minggu jika perlu.
Anak-anak usia 3–11 tahun: 5–10 mg/kgBB per hari, dibagi menjadi 2 dosis. Dosis maksimal 600 mg per hari.
- Kondisi: GERD yang disertai radang kerongkongan
Dewasa: 150 mg 4 kali sehari, selama 12 minggu. Dosis pemeliharaan 150 mg 2 kali sehari.
- Kondisi: Ulkus yang berkaitan dengan penggunaan obat antiinfamasi non steroid
Dewasa: 150 mg 2 kali sehari atau 300 mg sekali sehari sebelum tidur, dikonsumsi selama 8 minggu.
- Kondisi: Pencegahan perdarahan di sistem pencernaan akibat ulkus yang disebabkan oleh stres (stress ulceration) atau penyakit kritis lain
Dewasa: 150 mg 2 kali sehari.
- Kondisi: Pencegahan aspirasi asam lambung ketika bius total saat operasi
Dewasa: 150 mg, diberikan 2 jam sebelum pembiusan dan 150 mg pada malam sebelumnya. Untuk ibu melahirkan, dosisnya 150 mg yang diberikan saat proses persalinan dimulai.
Dosis ranitidin dalam bentuk cairan suntik akan ditentukan oleh dokter di rumah sakit berdasarkan kondisi kesehatan pasien dan tingkat keparahan penyakit. Ranitidin suntik diberikan melalui pembuluh darah (intravena/IV), otot (intramuskular/IM), atau diberikan dalam bentuk infus.
Ranitidin dalam bentuk cairan suntik hanya boleh diberikan oleh dokter atau tenaga medis di bawah pengawasan dokter.
