Seiring bertambahnya usia, sebagian lansia mulai mengalami kesulitan ketika harus menelan obat dalam bentuk tablet atau kapsul. Ada yang merasa obat tersangkut di tenggorokan, sulit menelan tanpa bantuan air, atau bahkan takut tersedak saat mengonsumsinya.
Masalah ini terkadang membuat lansia memilih untuk tidak minum obat, membuka kapsul, atau mencampurkan isinya ke dalam makanan tanpa mengetahui apakah cara tersebut aman.
Padahal, mengubah bentuk obat sembarangan dapat memengaruhi cara kerja dan efektivitasnya.
Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan jika lansia sulit menelan kapsul? Berikut penjelasannya.
Kesulitan menelan dalam istilah medis dikenal sebagai disfagia. Kondisi ini dapat terjadi karena adanya gangguan pada proses menelan, mulai dari mulut hingga kerongkongan.
Pada lansia, beberapa faktor yang dapat berperan antara lain:
a. Perubahan kemampuan menelan
Proses menelan melibatkan koordinasi otot dan saraf. Seiring bertambahnya usia, sebagian orang dapat mengalami perubahan fungsi yang membuat proses menelan menjadi kurang optimal.
b. Mulut terasa kering
Produksi air liur yang berkurang dapat membuat kapsul lebih sulit ditelan. Kondisi ini juga dapat dipengaruhi oleh penggunaan obat tertentu.
c. Gangguan gigi dan mulut
Masalah gigi, penggunaan gigi palsu yang kurang pas, atau gangguan pada otot mulut dapat membuat lansia kesulitan mengatur makanan dan obat saat menelan.
d. Penyakit tertentu
Beberapa kondisi seperti stroke, penyakit Parkinson, demensia, dan gangguan saraf lainnya dapat memengaruhi kemampuan menelan.
e. Efek penggunaan obat
Obat tertentu dapat menyebabkan mulut kering atau memengaruhi koordinasi otot yang berperan dalam proses menelan.
Jika kesulitan menelan muncul secara berulang atau semakin memburuk, kondisi tersebut sebaiknya diperiksa oleh tenaga kesehatan.
Memaksakan obat masuk ketika seseorang sedang kesulitan menelan dapat menimbulkan beberapa risiko.
Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan:
a. Tersedak
Jika kapsul masuk ke saluran pernapasan, lansia dapat mengalami batuk hebat, kesulitan bernapas, atau kondisi tersedak yang membutuhkan pertolongan segera.
b. Obat tersangkut di tenggorokan atau kerongkongan
Kapsul yang tidak tertelan dengan baik dapat menimbulkan rasa mengganjal atau tidak nyaman.
c. Iritasi pada kerongkongan
Beberapa obat dapat menyebabkan iritasi jika tertahan terlalu lama di kerongkongan, terutama apabila tidak diminum sesuai petunjuk.
d. Pengobatan menjadi tidak teratur
Lansia yang takut tersedak mungkin mulai melewatkan jadwal minum obat. Jika obat tersebut dibutuhkan untuk mengendalikan penyakit kronis, ketidakteraturan penggunaan dapat memengaruhi kondisi kesehatannya.
Tidak semua kapsul boleh dibuka.
Sebagian kapsul memang dirancang agar isinya dapat dikeluarkan dan diberikan dengan cara tertentu. Namun, ada juga kapsul yang memiliki sistem pelepasan khusus atau kandungan yang harus tetap berada dalam bentuk aslinya.
Membuka kapsul tanpa mengetahui jenis dan karakteristik obat dapat menyebabkan:
Cara pelepasan zat aktif berubah.
Obat menjadi kurang efektif atau justru meningkatkan risiko efek samping.
Dosis yang dikonsumsi menjadi tidak akurat.
Kandungan obat mengalami perubahan akibat cara pencampuran atau penyimpanan yang tidak tepat.
Karena itu, jangan membuka, mengunyah, atau mencampurkan isi kapsul ke makanan tanpa memastikan keamanannya kepada dokter atau apoteker.
Jika lansia kesulitan menelan kapsul tertentu, tanyakan apakah tersedia bentuk obat lain seperti sirup, tablet yang dapat dilarutkan, atau sediaan yang lebih mudah ditelan.
Jika lansia tidak memiliki gangguan menelan dan hanya kesulitan menelan kapsul berukuran besar, beberapa langkah berikut dapat membantu.
a. Pastikan posisi tubuh tegak
Duduk dengan posisi tegak saat minum obat. Hindari menelan kapsul sambil berbaring karena dapat meningkatkan risiko tersedak.
b. Gunakan air sesuai petunjuk
Minum obat dengan air putih dalam jumlah yang cukup sesuai petunjuk obat. Air membantu proses menelan dan dapat mengurangi kemungkinan obat tertahan di kerongkongan.
c. Jangan terburu-buru
Berikan waktu untuk menelan obat dengan nyaman. Hindari memasukkan beberapa kapsul sekaligus ke dalam mulut.
d. Periksa ukuran kapsul
Jika kapsul terlalu besar, tanyakan kepada apoteker apakah tersedia pilihan sediaan atau ukuran lain dengan kandungan yang sesuai.
e. Jangan memaksakan jika muncul kesulitan
Jika lansia mulai batuk, tersedak, atau merasa kesulitan menelan, hentikan pemberian obat dan cari arahan medis.
Penting untuk diingat bahwa tips tersebut hanya berlaku bagi lansia yang masih mampu menelan dengan aman. Jika terdapat dugaan disfagia, jangan mencoba berbagai teknik menelan sendiri tanpa penilaian tenaga kesehatan.
Obat cair sering menjadi pilihan alternatif bagi orang yang kesulitan menelan kapsul atau tablet. Namun, bukan berarti semua obat cair otomatis lebih aman untuk setiap lansia.
Pemilihan bentuk obat perlu mempertimbangkan kondisi pasien, kemampuan menelan, dosis, dan ketersediaan sediaan.
Beberapa alternatif yang mungkin dipertimbangkan dokter atau apoteker meliputi:
Sirup atau larutan oral: obat dalam bentuk cair yang dapat diukur menggunakan alat takar khusus.
Tablet larut: tablet yang dirancang untuk dilarutkan sesuai petunjuk penggunaan.
Tablet dispersibel: tablet yang dapat didispersikan dalam air jika memang diperbolehkan oleh petunjuk produk.
Sediaan lain: pilihan bentuk obat yang disesuaikan dengan kandungan dan kebutuhan pasien.
Tidak semua obat tersedia dalam bentuk alternatif. Selain itu, perubahan bentuk sediaan harus mempertimbangkan kesesuaian dosis dan cara kerja obat.
Jika kesulitan menelan terjadi berulang, jangan hanya berfokus pada cara agar kapsul lebih mudah masuk. Penting untuk mencari tahu penyebabnya.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah:
Catat keluhan yang dialami. Perhatikan apakah kesulitan terjadi saat menelan kapsul saja, makanan padat, atau bahkan air.
Perhatikan gejala lain. Misalnya batuk saat makan, suara berubah menjadi basah setelah minum, atau makanan terasa tersangkut.
Periksa seluruh obat yang digunakan. Sampaikan kepada dokter atau apoteker jika ada kapsul yang terlalu besar atau sulit ditelan.
Jangan menghentikan obat sendiri. Jika obat sulit dikonsumsi, mintalah alternatif yang sesuai.
Lakukan pemeriksaan medis. Dokter dapat menilai penyebab kesulitan menelan dan menentukan apakah pasien memerlukan pemeriksaan atau terapi khusus.
Jika kesulitan menelan muncul secara mendadak disertai wajah mencong, kelemahan pada satu sisi tubuh, atau bicara pelo, segera cari pertolongan darurat karena dapat menjadi tanda stroke.
Jika lansia tidak mampu menelan air liur, mengalami sesak napas, atau tersedak berat, segera cari bantuan medis.
Pendampingan keluarga dapat membantu lansia menggunakan obat dengan lebih aman, terutama jika mereka memiliki keterbatasan fisik, gangguan penglihatan, atau kesulitan mengingat jadwal pengobatan.
Beberapa hal yang dapat dilakukan keluarga antara lain:
Membantu menyiapkan obat sesuai resep.
Memastikan nama dan dosis obat tidak tertukar.
Mendampingi lansia saat mengonsumsi obat jika diperlukan.
Memperhatikan apakah lansia mengalami batuk atau tersedak saat menelan.
Mencatat obat yang sulit dikonsumsi untuk disampaikan saat konsultasi.
Keluarga juga sebaiknya tidak memaksa lansia menelan obat ketika sedang kesulitan. Keselamatan pasien harus menjadi prioritas.
Kesulitan menelan kapsul pada lansia tidak selalu disebabkan oleh ukuran obat. Kondisi ini bisa berkaitan dengan perubahan fungsi menelan, gangguan saraf, masalah mulut dan tenggorokan, maupun efek penggunaan obat tertentu.
Di Klinik Kei Medika Jambi, lansia dan keluarga dapat berkonsultasi mengenai keluhan kesehatan serta penggunaan obat sesuai kebutuhan.
Jika lansia sering mengalami kesulitan menelan, sampaikan gejala yang muncul dan bawa daftar obat yang sedang dikonsumsi. Informasi tersebut dapat membantu tenaga kesehatan menentukan langkah pemeriksaan dan pilihan pengobatan yang sesuai.
Jangan mengubah bentuk kapsul atau menghentikan obat tanpa memastikan keamanannya terlebih dahulu.
Kesulitan menelan kapsul pada lansia perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan risiko tersedak, iritasi kerongkongan, dan ketidakteraturan penggunaan obat.
Jika masalahnya hanya ukuran kapsul, dokter atau apoteker dapat membantu mempertimbangkan bentuk obat alternatif. Namun, jika kesulitan menelan juga terjadi saat makan atau minum, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Ingat, jangan membuka atau menghancurkan kapsul sembarangan hanya agar lebih mudah diminum. Pastikan setiap perubahan cara penggunaan obat sudah dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan demi menjaga keamanan pengobatan lansia.
Reservasi
Klinik Kei
Medika
WhatsApp :
0811-7450-412
Instagram : @keimedika
Facebook : kei medika
TikTok : kei_medika
YouTube : Kei Medika Official
Website : www.keimedika.com
Silakan
hubungi untuk konsultasi kesehatan sesuai kebutuhan Anda.