Seiring bertambahnya usia, seseorang bisa mengalami beberapa masalah kesehatan sekaligus, seperti hipertensi, diabetes, gangguan jantung, nyeri sendi, atau kolesterol tinggi. Kondisi tersebut terkadang membuat lansia perlu mengonsumsi beberapa jenis obat dalam satu hari.
Misalnya, ada obat yang diminum pada pagi hari, obat lain setelah makan, dan beberapa obat yang harus dikonsumsi pada malam hari. Jika tidak dikelola dengan baik, banyaknya obat dapat membuat lansia kesulitan mengingat jadwal dan aturan penggunaannya.
Selain itu, penggunaan beberapa obat secara bersamaan juga dapat meningkatkan risiko interaksi obat dan efek samping tertentu.
Lalu, apa saja risiko yang perlu diperhatikan ketika lansia mengonsumsi banyak obat sekaligus? Berikut penjelasannya.
Polifarmasi adalah istilah medis yang digunakan untuk menggambarkan penggunaan beberapa jenis obat secara bersamaan oleh seseorang.
Istilah ini sering ditemukan pada kelompok lansia karena mereka lebih berpeluang memiliki beberapa penyakit kronis yang membutuhkan pengobatan jangka panjang.
Namun, mengonsumsi banyak obat tidak selalu berarti penggunaannya salah atau berbahaya. Dalam kondisi tertentu, beberapa obat memang dibutuhkan untuk mengendalikan penyakit yang berbeda.
Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah seluruh obat tersebut masih diperlukan, memiliki dosis yang sesuai, dan tidak menimbulkan interaksi yang merugikan.
Karena itu, penggunaan obat pada lansia sebaiknya dievaluasi secara berkala oleh dokter atau tenaga kesehatan.
Ada beberapa alasan yang membuat lansia membutuhkan lebih dari satu jenis obat.
a. Memiliki beberapa penyakit sekaligus
Seseorang bisa mengalami hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi dalam waktu bersamaan. Setiap kondisi mungkin membutuhkan jenis pengobatan yang berbeda.
b. Membutuhkan pengobatan jangka panjang
Beberapa penyakit kronis memerlukan pengobatan rutin untuk membantu mengendalikan gejala dan mengurangi risiko komplikasi.
c. Mengalami keluhan kesehatan tambahan
Selain penyakit utama, lansia juga bisa mengalami gangguan tidur, nyeri sendi, masalah pencernaan, atau keluhan lainnya yang membutuhkan penanganan.
d. Menggunakan obat dari beberapa dokter
Lansia yang berobat ke dokter berbeda mungkin mendapatkan resep yang berbeda pula. Jika seluruh obat tidak dicatat dan dikomunikasikan dengan baik, risiko penggunaan obat yang tumpang tindih dapat meningkat.
Penggunaan beberapa obat secara bersamaan perlu mendapatkan perhatian karena dapat menimbulkan berbagai risiko.
a. Interaksi antarobat
Interaksi obat terjadi ketika suatu obat memengaruhi cara kerja obat lain. Akibatnya, efek obat bisa meningkat, menurun, atau menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan.
Contohnya, beberapa kombinasi obat dapat meningkatkan risiko perdarahan, gangguan irama jantung, atau penurunan tekanan darah yang berlebihan.
b. Efek samping yang lebih kompleks
Semakin banyak obat yang digunakan, semakin banyak pula kemungkinan efek samping yang perlu diperhatikan. Beberapa efek samping bahkan dapat menyerupai gejala penyakit lain sehingga sulit dikenali.
c. Risiko jatuh dan cedera
Obat tertentu dapat menyebabkan pusing, mengantuk, gangguan keseimbangan, atau penurunan tekanan darah saat berdiri. Pada lansia, kondisi ini dapat meningkatkan risiko jatuh dan mengalami patah tulang.
d. Gangguan fungsi ginjal dan hati
Ginjal dan hati berperan penting dalam memproses atau mengeluarkan banyak jenis obat. Pada sebagian lansia, fungsi organ tersebut dapat mengalami penurunan sehingga dosis atau pilihan obat perlu disesuaikan.
e. Kesalahan penggunaan obat
Jumlah obat yang banyak dapat membuat lansia lebih mudah lupa, tertukar, atau mengonsumsi obat dua kali. Kesalahan seperti ini dapat memengaruhi keamanan pengobatan.
Tidak semua interaksi obat langsung menimbulkan gejala yang terlihat. Namun, keluarga perlu memperhatikan perubahan kondisi lansia setelah memulai obat baru atau mengalami perubahan dosis.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan meliputi:
Pusing atau merasa tidak stabil saat berdiri.
Mengantuk berlebihan atau lebih sulit berkonsentrasi.
Mual, muntah, atau gangguan pencernaan yang tidak biasa.
Mudah mengalami memar atau perdarahan.
Jantung berdebar atau terasa tidak teratur.
Kebingungan atau perubahan perilaku secara mendadak.
Tubuh terasa sangat lemas.
Gejala tersebut tidak selalu disebabkan oleh obat, tetapi perlu dievaluasi apabila muncul setelah penggunaan obat atau perubahan dosis.
Jika lansia mengalami sesak napas, pingsan, nyeri dada, kejang, perdarahan berat, atau penurunan kesadaran, segera cari pertolongan medis.
Sebagian lansia menjalani pemeriksaan di lebih dari satu fasilitas kesehatan. Hal ini dapat membuat mereka memiliki resep dari dokter yang berbeda.
Masalah bisa muncul ketika setiap dokter tidak mengetahui seluruh obat yang sedang dikonsumsi pasien.
Sebagai contoh, dua obat dengan kandungan atau fungsi yang serupa mungkin diresepkan untuk keluhan berbeda. Jika keduanya digunakan bersamaan tanpa evaluasi, pasien berisiko menerima dosis berlebihan.
Untuk menghindari hal tersebut, keluarga sebaiknya:
Memberi tahu setiap dokter mengenai seluruh obat yang sedang digunakan.
Membawa resep dan kemasan obat saat konsultasi.
Mencatat obat yang diperoleh dari fasilitas kesehatan maupun yang dibeli sendiri.
Menyampaikan penggunaan vitamin, suplemen, dan obat herbal.
Tidak menambahkan obat baru tanpa memeriksa kemungkinan interaksinya.
Informasi yang lengkap membantu tenaga kesehatan menilai apakah seluruh obat dapat digunakan secara bersamaan.
Jadwal minum obat yang teratur dapat membantu mengurangi risiko lupa, tertukar, atau mengonsumsi obat secara berulang.
Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan:
a. Buat daftar seluruh obat
Catat nama obat, dosis, waktu penggunaan, dan tujuan pemberiannya. Perbarui daftar tersebut setiap kali ada perubahan resep.
b. Gunakan kotak penyimpanan obat
Kotak obat dengan pembagian hari dan waktu dapat membantu lansia mengenali obat yang perlu dikonsumsi. Namun, pastikan obat memang boleh dipindahkan dari kemasan aslinya dan disimpan dengan cara tersebut.
c. Pasang pengingat
Gunakan alarm pada ponsel atau bantuan anggota keluarga untuk mengingatkan jadwal minum obat.
d. Perhatikan aturan sebelum dan sesudah makan
Tidak semua obat memiliki aturan yang sama. Ada yang perlu diminum sebelum makan, sesudah makan, atau pada waktu tertentu.
e. Lakukan pemeriksaan berkala
Mintalah dokter atau apoteker mengevaluasi seluruh obat yang digunakan, terutama ketika ada obat baru, perubahan kondisi kesehatan, atau muncul efek samping.
Tidak disarankan menghentikan obat sendiri hanya karena kondisi tubuh terasa lebih baik.
Beberapa obat digunakan untuk mengendalikan penyakit yang tidak selalu menunjukkan gejala, seperti hipertensi dan kolesterol tinggi.
Jika obat dihentikan tanpa arahan, kondisi kesehatan bisa kembali memburuk atau risiko komplikasi meningkat.
Sebaliknya, jika lansia mengalami efek samping atau merasa jumlah obat terlalu banyak, hal tersebut perlu disampaikan kepada dokter.
Dokter dapat mengevaluasi apakah dosis perlu disesuaikan, obat perlu diganti, atau ada obat yang sudah tidak diperlukan.
Tujuannya bukan sekadar mengurangi jumlah obat, melainkan memastikan setiap obat yang digunakan memang memiliki manfaat dan sesuai dengan kondisi pasien.
Penggunaan banyak obat pada lansia membutuhkan pemantauan yang lebih teliti. Keluarga juga memiliki peran penting dalam memastikan obat dikonsumsi sesuai jadwal dan aturan yang diberikan.
Di Klinik Kei Medika Jambi, lansia dan keluarga dapat berkonsultasi mengenai keluhan kesehatan serta penggunaan obat sesuai kebutuhan.
Saat melakukan konsultasi, sebaiknya bawa seluruh daftar obat, resep, vitamin, dan suplemen yang sedang digunakan. Informasi tersebut dapat membantu tenaga kesehatan memahami kondisi pasien secara lebih menyeluruh.
Jangan menunggu sampai muncul efek samping berat untuk mengevaluasi penggunaan obat. Pemeriksaan berkala dapat membantu mengidentifikasi potensi masalah lebih awal.
Mengonsumsi beberapa jenis obat sekaligus bukan berarti selalu berbahaya bagi lansia. Dalam kondisi tertentu, penggunaan beberapa obat memang diperlukan untuk mengendalikan penyakit yang berbeda.
Namun, setiap obat perlu dievaluasi agar dosisnya sesuai, tidak menimbulkan interaksi yang merugikan, dan tetap memberikan manfaat bagi pasien.
Ingat, semakin banyak obat yang dikonsumsi, semakin penting pula pengawasan dan pengaturan penggunaannya. Jangan menambah, mengurangi, atau menghentikan obat lansia tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan.
Reservasi
Klinik Kei
Medika
WhatsApp :
0811-7450-412
Instagram : @keimedika
Facebook : kei medika
TikTok : kei_medika
YouTube : Kei Medika Official
Website : www.keimedika.com
Silakan
hubungi untuk konsultasi kesehatan sesuai kebutuhan Anda.