Kemampuan bicara dan bahasa berkembang secara bertahap sejak bayi. Pada usia dua tahun, banyak anak mulai menggunakan kosakata yang semakin beragam, memahami instruksi sederhana, serta menggabungkan dua kata untuk menyampaikan keinginannya, seperti “mau susu” atau “ambil bola”.
Menurut tonggak perkembangan yang digunakan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC), pada usia dua tahun sebagian besar anak sudah mampu mengucapkan setidaknya dua kata secara bersamaan. Anak juga mulai menunjuk benda dalam buku ketika diminta dan menggunakan gerakan tubuh untuk berkomunikasi.
Meski demikian, perkembangan setiap anak tidak selalu sama. Orang tua perlu melihat kemampuan komunikasi secara keseluruhan, termasuk pemahaman bahasa, penggunaan gestur, respons ketika dipanggil, dan interaksi dengan orang lain.
Jika anak belum menunjukkan kemampuan yang diharapkan pada usianya, sebaiknya lakukan pemeriksaan daripada hanya menunggu anak berbicara dengan sendirinya.
Ada beberapa tanda yang dapat menjadi alasan bagi orang tua untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Pada usia dua tahun, anak biasanya sudah mulai menggunakan berbagai kata untuk menyebut orang, benda, makanan, atau aktivitas yang sering ditemui. Jika anak hanya mengucapkan sangat sedikit kata atau belum menggunakan kata bermakna untuk berkomunikasi, kemampuan bahasanya perlu dievaluasi.
Anak usia dua tahun umumnya mulai menggabungkan dua kata, misalnya “mau makan”, “ibu sini”, atau “bola jatuh”. Jika anak belum pernah mencoba menggabungkan kata secara spontan, orang tua sebaiknya berkonsultasi untuk menilai perkembangan bahasanya.
Perhatikan apakah anak memahami instruksi sederhana yang sesuai dengan situasi, seperti “ambil sepatu” atau “berikan bola”. Jika anak juga tampak kesulitan memahami perkataan sehari-hari, evaluasi perlu mencakup kemampuan memahami bahasa, bukan hanya kemampuan berbicara.
Anak dapat menggunakan gerakan seperti menunjuk, melambaikan tangan, mengangguk, atau menggeleng untuk menyampaikan keinginan. Jika anak jarang menggunakan gestur dan kurang berusaha berkomunikasi dengan orang lain, hal ini juga perlu diperhatikan.
Anak yang sering tidak merespons ketika dipanggil atau tampak tidak memahami suara di sekitarnya perlu menjalani evaluasi, termasuk pemeriksaan pendengaran. Gangguan pendengaran dapat memengaruhi kemampuan anak mempelajari kata dan memahami bahasa.
Jika anak sebelumnya sudah bisa mengucapkan kata atau berkomunikasi dengan cara tertentu, tetapi kemudian kehilangan kemampuan tersebut, segera konsultasikan dengan dokter. Kemunduran perkembangan perlu dievaluasi tanpa menunda.
Keterlambatan bicara dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Tidak semua anak yang terlambat bicara memiliki penyebab yang sama, sehingga pemeriksaan diperlukan untuk memahami kondisi masing-masing anak.
Anak mempelajari bahasa dengan mendengar suara dan percakapan di sekitarnya. Gangguan pendengaran, baik sejak lahir maupun yang muncul kemudian, dapat memengaruhi kemampuan anak memahami dan meniru kata.
Karena itu, pemeriksaan pendengaran dapat menjadi bagian penting dari evaluasi keterlambatan bicara, meskipun anak tampak mampu mendengar suara tertentu.
Sebagian anak mengalami keterlambatan dalam menggunakan kata, sementara kemampuan memahami bahasa relatif lebih baik. Ada pula anak yang mengalami kesulitan dalam memahami dan menggunakan bahasa sekaligus.
Tenaga kesehatan dapat menilai kemampuan tersebut untuk menentukan apakah anak membutuhkan pemantauan, stimulasi khusus, atau terapi wicara.
Keterlambatan komunikasi terkadang berkaitan dengan kondisi perkembangan, termasuk gangguan spektrum autisme atau keterlambatan perkembangan pada beberapa bidang sekaligus. Namun, terlambat bicara saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa anak mengalami autisme.
Penilaian perlu melihat berbagai aspek perkembangan, seperti interaksi sosial, komunikasi nonverbal, perilaku, dan kemampuan bermain.
Percakapan sehari-hari, membaca buku bersama, bernyanyi, dan bermain dengan orang lain memberi anak kesempatan untuk belajar bahasa. Jika kesempatan berinteraksi terbatas, stimulasi komunikasi anak mungkin juga menjadi kurang optimal.
Namun, orang tua tidak perlu langsung menyalahkan diri sendiri. Keterlambatan bicara dapat memiliki banyak penyebab dan tidak selalu berkaitan dengan pola pengasuhan.
Orang tua dapat membantu perkembangan bahasa melalui kegiatan sederhana yang dilakukan secara rutin dan menyenangkan.
Ceritakan apa yang sedang dilakukan, misalnya “sekarang kita pakai baju” atau “ini sendok untuk makan”. Gunakan kalimat sederhana, jelas, dan sesuai dengan situasi agar anak lebih mudah menghubungkan kata dengan benda atau aktivitas.
Pilih buku dengan gambar yang menarik. Sebutkan nama benda, hewan, atau kegiatan dalam gambar, kemudian beri anak kesempatan untuk menunjuk atau mencoba menyebutkannya.
Tidak perlu menuntut anak menjawab dengan sempurna. Tujuan utamanya adalah membangun interaksi dan membuat anak menikmati kegiatan berbahasa.
Jika anak mengatakan “bola”, orang tua dapat merespons, “Iya, bola merah.” Jika anak berkata “mau susu”, orang tua dapat menjawab dengan kalimat sederhana yang sesuai. Cara ini membantu anak mendengar contoh penggunaan kata tanpa merasa terus-menerus dikoreksi.
Saat bertanya atau mengajak anak berbicara, berikan waktu agar anak mencoba merespons dengan kata, suara, atau gestur. Hindari terburu-buru menjawab semua kebutuhan anak tanpa memberinya kesempatan berkomunikasi.
Video atau aplikasi tidak dapat menggantikan percakapan dua arah dengan orang tua. Batasi waktu layar sesuai usia dan utamakan kegiatan seperti bermain bersama, membaca buku, bernyanyi, serta berbicara secara langsung.
Stimulasi di rumah bermanfaat, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan jika anak menunjukkan tanda keterlambatan perkembangan.
Jika anak berusia dua tahun belum menggabungkan dua kata secara spontan, kosakatanya sangat terbatas, sulit memahami instruksi sederhana, atau tidak merespons suara secara konsisten, orang tua sebaiknya membuat janji pemeriksaan.
Dokter akan menilai riwayat perkembangan dan kemampuan komunikasi anak. Jika diperlukan, anak dapat dirujuk untuk pemeriksaan pendengaran, evaluasi tumbuh kembang, atau penilaian oleh terapis wicara.
Jangan menunda pemeriksaan hanya karena anak belum memasuki usia prasekolah atau karena ada anggota keluarga yang dahulu mulai berbicara lebih lambat. Identifikasi dan dukungan sedini mungkin dapat membantu anak memperoleh bantuan sesuai kebutuhannya.
Anak usia dua tahun yang belum lancar bicara perlu diperhatikan berdasarkan kemampuan komunikasi secara keseluruhan, bukan hanya banyaknya kata yang diucapkan. Belum mampu menggabungkan dua kata, kesulitan memahami instruksi, tidak merespons suara secara konsisten, atau kehilangan kemampuan yang sebelumnya dimiliki merupakan alasan untuk mencari evaluasi profesional.
Orang tua dapat mendukung perkembangan bahasa melalui percakapan, membaca buku, bermain bersama, dan memberikan kesempatan kepada anak untuk merespons. Jika muncul tanda keterlambatan, pemeriksaan tumbuh kembang dan pendengaran dapat membantu menentukan langkah yang tepat tanpa harus menunggu anak bertambah besar.
Informasi & Reservasi
Klinik Kei Medika – Jambi
WA: 0811-7450-412
Instagram: @keimedika
Website: www.keimedika.com